Mengenang Bom Atom Hiroshima, Inilah Kisah Dari Saksi Mata

Komentar

Bom atom, adalah benda penghancur yang telah meluluh lantahkan 2 kota industri besar yang membuat Jepang harus menyerah saat perang dunia kedua.

Dalam artikel ini, kita coba mengikuti kisah dari seorang yang pernah merasakan bagaimana dahsyatnya bom atom. Beliau adalah Pater Klaus Luhmer.

“Pukul 8.14 saya mendengar ada ledakan. Kemudian muncul sesuatu yang tidak saya pahami. Nampak sesuatu yang lebih silau daripada matahari. Seperti setengah bulatan. Instink saya mengatakan, bahwa yang meledak itu adalah bom perusak yang meledak di balik bukit.“

“Ketika saya melihat kilauan itu, tiba-tiba muncul gelombang yang amat panas. Rumah kami bergetar. Hampir semua genteng jatuh seperti hujan dan jendela pecah. Di sekeliling rumah puing-puing bertaburan.”

“Saat itu langitnya begitu terang. Tiba-tiba, waktu saya berdiri di atas bukit, awan hitam nampak di atas langit dan hujan mulai turun. Hujannya hitam.“

“Saya melihat tigapuluh atau empat puluh tentara berseragam lengkap yang terluka bakar. Mereka tidak dapat berteriak lagi. Mereka hanya merintih, “air, air“. Kebetulan ada sumur air, sehingga kami dapat memberikan mereka air minum. Tetapi, jumlah kami tidak cukup untuk membantu mereka. Saat itu dibutuhkan ratusan tangan untuk mengangkut korban.”

“Tentara diinstruksikan untuk mengeluarkan mayat dari reruntuhan, lalu ditumpuk dan dibakar. Tanggal 8 Agustus militer membersihkan kota dari mayat-mayat yang mulai membusuk.”

“Dalam keadaan lelah para pastur kembali ke biara. Namun, setiba di rumah, tugas baru menanti mereka. Seorang anak perempuan yang belajar piano dengan Pater Luhmer meminta pertolongannya. Ayahnya meninggal. “Kata anak itu, mohon bantu kami untuk membuang mayat-mayat.”

“Tercium bau busuk yang tidak terlupakan selama hidup saya. Dan saya tidak dapat menggambarkan situasinya ketika mayat-mayat yang sudah busuk itu dibakar. Orang-orang yang pernah mangalami situasi seperti itu, akan menjadi lebih keras. Sungguh menakjubkan bagaimana orang-orang itu, setelah mengalami bencana, memiliki semangat untuk bangun kembali. Bangun, bangun dan terus bangun.”

Inilah kisah yang pernah diceritan oleh Klaus Luhmer yang dilahirkan di Pulheim, dekat Köln, pada 28 September 1916. Namun kini ia telah tiada, Klaus Luhmer meninggal pada 1 Maret 2011 di Tokyo, Jepang.

Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Share on LinkedIn0Pin on Pinterest0Share on StumbleUpon0Share on Reddit0Share on Tumblr0Share on VKEmail this to someonePrint this page